Saturday, 16 Dec 2017
 
 
IKRAR PEMUDA MELAHIRKAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Friday, 03 November 2017 11:32

<!-- /* Font Definitions */ @font-face {font-family:"Cambria Math"; panose-1:2 4 5 3 5 4 6 3 2 4; mso-font-charset:1; mso-generic-font-family:roman; mso-font-format:other; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:0 0 0 0 0 0;} @font-face {font-family:Calibri; panose-1:2 15 5 2 2 2 4 3 2 4; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-536870145 1073786111 1 0 415 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-unhide:no; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; margin-top:0in; margin-right:0in; margin-bottom:8.0pt; margin-left:0in; line-height:107%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoChpDefault {mso-style-type:export-only; mso-default-props:yes; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-fareast-theme-font:minor-latin; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin; mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} .MsoPapDefault {mso-style-type:export-only; margin-bottom:8.0pt; line-height:107%;} @page WordSection1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.0in 1.0in 1.0in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.WordSection1 {page:WordSection1;} -->

IKRAR PEMUDA MELAHIRKAN PROKLAMASI KEMERDEKAAN

Juanda, (Humas Setwan). Upacara Peringatan 89 tahun Sumpah Pemuda Tahun 2017 Tingkat Kota Sukabumi, Saptu (28/10’17), berlangsung di Lapangan Merdéka Kota Sukabumi. Walikota Sukabumi, H. Mohamad Muraz, S.H., M.M., bertindak selaku Inspektur Upacara, membacakan sambutan tertulis Menpora RI, Imam Nahrawi, yang menegaskan Peringatan Sumpah Pemuda yang mengangkat thema “Pemuda Indonésia Berani Bersatu, serta tagline atau hashtagnya yakni berani bersatu. 89 taun lalu tepatnya tanggal 28 Oktober 1928,  71 pemuda dari seluruh  Indonésia, berhimpun di salah satu gedung Jalan Kramat Raya, kawasan Kwitang Jakarta, mengikrarkan diri sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa, yaitu Indonésia.

“Ikrar tersebut sangat monuméntal bagi perjalanan sejarah bangsa Indonésia. Sebab setelah ikrar berlangsung selama 17 tahun, melahirkan Proklamasi Kamerdékaan RI, tanggal 17 Agustus 1945,” jelasya.

Sumpah Pemuda, dibacakan di Kongres Pemuda kedua, yang dihadiri para pemuda lintas suku, agama dan daérah. Seumpama membaca dokumén sejarahnya, kata Menpora yang dituturkan Walikota Sukabumi, bakal melihat daftar panitia dan peserta kongrés yang berasal dari pulau-pulau jauh Indonésia, jeung sacara imaginatif sulit dibayangkeun bisa panggih kalayan gampang. Nya éta ti tatar kulon Indonésia, kita mengenal Mohammad Yarnin, salah seorang pemuda kelahiran Sawah Lunto Sumatra Barat yang mewakili Organisasi Pemuda Sumatra atau Jong Sumatranen Bond. Dari kawasan timur Indonésia, Johannes Leimena, kelahiran Kota Ambon Maluku mewakili organisasi pemuda Jong Ambon. Juga ada Katjasungkana dari Madura, dan Cornelis Lefrand Senduk, mewakili organisasi pemuda Sulawesi Jong Celebes.

Dalam hal ini, Menpora bertanya, apakah pernah membayangkan bagaimana Mohammad Yamin dari Sawah Lunto bisa bisa bertemu dengan Johannes Leimena dari Ambon, serta Katjasungkana dari Madura bisa bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi? Dan bukan sekedar bertemu saja, tetapi berdiskusi, bertukar pikiran dan mematangkan gagasan, yang pada akhirnya bisa menyatukan diri dalam komitmen ke-Indonésiaan. Padahal jarak antara Sawah Lunto dan Kota Ambon lebih dari 4.000 kilometer, hampir sama dengan jarak antara Kota Jakarta ke Kota Sanghai di China. Selain itu, juga sarana transportasi umum pada waktu itu masih mengandalkan laut, serta membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa sampai ke kota mereka masing-masing. Begitu juga alat komunikasi juga masih terbatas, yakni hanya mengandalkan Kantor Pos, yang membutuhkan waktu lama sekali, antara sebulan hingga dua bulan baru sampai  ke alamat yang dituju.

“Belum seumpama berbicara agama dan bahasa, sebab Mohammad Yamin menganut agama Islam dan bahasa Melayu, sedangkan Johannes Leimena penganut Protestan dan bahasa Ambon. Demikian juga Katjasungkana, Lefrand Senduk dan para pemuda peserta kongrés pemuda lainya, memiliki latarbelakang agama, suku, bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda. Namun begitu, fakta sejarah menunjukkan, bahwa batasan-batasan tersebut tidak menjadi halangan bagi para pemuda Indonésia untuk bersatu demi cita-cita Indonésia. Nah demikian yang disebut berani bersatu,” terangnya .

Dalam kesempatan tersebut, Walikota Sukabumi menyerahkan Penghargaan kepada para mantan Ketua KNPI Kota Sukabumi, para pemuda pelopor, para juara LSS (Lomba Sakola Séhat) Tingkat Kota Sukabumi, jugat para pelajar yang mempunyai prestasi di Tingkat Kota Suikabumi dan Propinsi Jawa Barat, dilanjutkan dengan peresmian Monument Pamuda, tepatnya di Pertigaan Jalan Masjid dan Veteran II Kota Sukabumi.

Hadir pada kesempatan tersebut, Pimpinan DPRD Kota Sukabumi, Wakil Walikota Sukabumi, H. Achmad Fahmi, S.Ag., M.M.Pd.,  Anggota DPRD, Unsur Forkopimda (Forum Komunikasi Pimpinan Daérah) Kota Sukabumi, Sekertaris Daérah Kota Sukabumi, Dr, H.M.N. Hanafie Zain, M.Si., Ketua dan Wakil Ketua TP PKK serta Ketua DWP (Dharma Wanita Persatuan) Kota Sukabumi, para Asistén Daérah Setda Kota Sukabumi, para Kepala OPD (Organisasi Parangkat Daérah), para Camat dan  Lurah, serta para tamu undangan lainnya. (B/Bay/Mz/Oge)